MEA 2016, Era-nya Insinyur Muda Indonesia Untuk Tunjukan Kompetensi

Oleh : Yoga Ernanto Prabowo

 

Tahun 2016 sudah kita mulai, geliat isu tentang MEA yang sering kita dengar di awal tahun 2015 telah dikumandangkan, ibarat perang genderang nya sudah mulai ditabuh, dan seluruh pasukan tempur masing-masing faksi siap atau tidak siap harus bertempur, menyerang atau diserang. Bagaimana dengan gambaran peta “Pasukan dan arsenal” Indonesia?

MEA atau AEC adalah Masyarakat Ekonomi Asean / Asean Economic Community, istilah yang mungkin hampir merujuk kepada Masyarakat Ekonomi Eropa yang telah lahir kurang lebih 5 dekade yang lalu. Secara umum keduanya hampir sama, yang membedakannya hanyalah mereka di Eropa sedangkan kita di Asia Tenggara (ASEAN). Sehingga secara umum bisa diartikan sebagai bentuk integrasi seluruh kekuatan ekonomi di negara ASEAN untuk menerapkan sistem perdagangan bebas, baik itu aliran modal, barang, jasa, hingga tenaga kerja terlatih, serta aliran investasi yang lebih bebas dibandingkan sebelumnya.

Selain telah dibentuknya MEA, di tahun-tahun awal pemerintahan Presiden Ir. Joko Widodo, kita telah menyaksikan begitu banyak dicanangkannya pembangunan Infrastruktur yang cukup merata di sebagian wilayah Indonesia, walaupun belum seluruhnya. Pemerintah seakan-akan telah mencetak sebuah skema “Blueprint” baru bagi keberlangsungan proyek Infrastruktur yang selama ini diam di tempat.

Sebut saja contoh diantaranya adalah Megaproyek Listrik 35.000 MW yang sebelumnya “hanya” 20.000 MW, pembangunan Jalur Kereta Api Trans Sulawesi, pembangunan jalur kereta api Trans Kalimantan, ekspansi proyek jalan tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatra, dan masih banyak yang lain.

Meskipun milestone pengembangan proyek infrastruktur di Indonesia sudah mulai terlihat, Indonesia masih terlihat kekurangan Industri yang berkualitas ataupun sumber daya manusia yang memiliki kualitas tinggi sebagai insinyur profesional dengan kualifikasi yang diakui secara internasional, hal ini tentu saja patut dicermati mengingat salah satu tujuan diberlakukannya MEA adalah kebebasan arus Jasa dan Tenaga Ahli serta Terampil, artinya SDM dari negara lain bebas keluar masuk Indonesia untuk mencari sesuap nasi.

Tidak hanya itu, selain skill yang mumpuni tentu saja biaya cost per manpower, ataupun cost per produksi patut menjadi pertimbangan. Di situasi seperti sekarang ini, Cost yang efisien disertai kualitas Individu yang bagus akan menjadi pertimbangan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi customer yang ingin bermitra atau bekerjasama dengan kita, ini yang harus menjadi refleksi bagi kita semua, apakah sudah efisien dan efektifkah organisasi dan SDM yang kita miliki? Jangan sampai hanya karena biaya yang tinggi kita gagal bersaing dengan perusahaan ataupun individu dari Negara Asean yang lain, dan itu semua tidak lepas dari peran dan kualitas seorang Insinyur dalam melakukan pengelolaan.

Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana meningkatkan kualitas Insinyur Indonesia? Menurut Infografis yang dikeluarkan oleh Biro Persatuan Insinyur Indonesia tahun 2015, Indonesia memiliki penduduk setidaknya sekitar 252 Juta, dan dari jumlah itu hanya sekitar 800.000 SDM Indonesia menyandang gelar Sarjana Teknik, dan 10.000 SDM Indonesia menyandang gelar Insinyur Profesional, angka yang sangat sedikit sekali untuk ukuran Negara besar seperti Indonesia yang ingin menjadi Negara industri maju baru di tahun 2020. Apalagi menurut Sekjen Persatuan Insinyur Indonesia, Prof.Dr.Ir. Danang Parikesit, IPU, Indonesia ingin menargetkan kontribusi industri non migas yang mampu mencapai 30% terhadap PDB.

Selama ini kita hanya mengenal istilah Insinyur untuk mereka yang menempuh pendidikan tinggi di bidang keteknikan sebelum era tahun 90an. Pada era tersebut seluruh lulusan teknik, kehutanan hingga teknologi pertanian menyandang gelar “Insinyur”. Memasuki era tahun 90an, diberlakukan regulasi baru di bidang pendidikan, dimana seluruh lulusan jenjang S1 Fakultas Teknik dan Pertanian tidak lagi menyandang gelar Insinyur, melainkan menyandang Gelar Sarjana Teknik atau Sarjana Pertanian dan sejenisnya. Hal tersebut dikarenakan gelar Insinyur tidak lagi dipandang sebagai gelar akademik melainkan gelar profesi, yang secara kualitas masih diragukan kompetensinya.

Dengan dikeluarkannya aturan gelar Insinyur sesuai dengan UU No.11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran, hal ini merupakan validasi akan kompetensi seorang lulusan penyandang gelar Sarjana Teknik untuk dapat menjadi Insinyur Profesional melalui Sertifikasi Insinyur Profesional dan Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan / PKB. Hal yang diatur dalam UU No.11 tahun 2014 ini mencakup sistem pengembangan kompetensi insinyur professional, perizinan kerja bagi para pelaku profesi keinsinyuran termasuk Insinyur asing, sistem penjaminan kualifikasi dasar untuk memasuki profesi keinsinyuran, dan sistem penjaminan mutu akademis untuk pendidikan tinggi teknik.

Dengan adanya legalitas payung hukum atas profesi keinsinyuran yang sudah diterbitkan saat ini, seorang Sarjana Teknik dapat menjadi seorang Insinyur sesuai dengan ketentuan Undang Undang Keinsinyuran yang sudah diberlakukan, dan harapannya melalui Program Sertifikasi Insinyur Profesional dan Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan yang sudah diberlakukan, Insinyur Indonesia dapat bersaing dan setara dengan Insinyur Asing dari Negara-negara anggota Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Dengan melakukan sertifikasi insinyur professional akan banyak sekali manfaat yang dirasakan baik bagi Negara, perorangan (pemegang sertifikasi), maupun organisasi perusahaan. Diantaranya :

  1. Adanya bentuk jalur pertanggung-jawaban secara perdata atas hasil karya, produk maupun jasa keinsinyuran
  2. Terciptanya kesetaraan Internasional bagi jenjang keprofesionalan tenaga ahli teknik / Insinyur nasional
  3. Adanya pengakuan resmi dan berlaku secara nasional maupun internasional terhadap kompetensi, keahlian dan kemampuan keinsinyuran dari seseorang yang menyandang gelar sertifikasi insinyur professional
  4. Tersedianya kesempatan peningkatan kompetensi, keahlian dan kemampuan melalui pembinaan keprofesian yang berkelanjutan
  5. Tersedianya kemudahan untuk ikut serta dalam proyek-proyek pembangunan keinsinyuran bila persyaratan keprofesionalan kelak telah diberlakukan pemerintah
  6. Terciptanya iklim keprofesionalan dalam organisasi / perusahaan, yang tentunya akan mendorong seorang insinyur untuk semakin meningkatkan keahliannya.

Dengan demikian semakin jelaslah bahwa peningkatan kompetensi seorang Insinyur atau Sarjana Teknik melalui sertifikasi mutlak diperlukan pada era saat ini jika ingin bersaing dengan Insinyur dari ASEAN,

Melalui wadah Organisasi Profesi Persatuan Insinyur Indonesia, seorang penyandang gelar Sarjana Teknik akan diakui kompetensinya untuk menjadi Insinyur Profesional yang digolongkan menurut kompetensi, jam terbang dan pengalaman yang dimiliki, yaitu Insinyur Profesional Pratama (Professional Engineer), Insinyur Profesional Madya (Senior Professional Engineer), dan Insinyur Profesional Utama (Executive Professional Engineer).

Kemudian secara teknis, kompetensi seorang penyandang Insinyur Profesional harus selalu dikembangkan sebagai salah satu syarat untuk memperpanjang sertifikasi yang berlaku setiap 5 tahun, dan seyogyanya seorang Insinyur nantinya juga harus membiasakan budaya menulis pengalaman kerja (resume) melalui logbook atau rekam kinerja dan harus selalu dicatat dengan teratur, hal yang sampai saat ini dirasa masih belum membudaya di Indonesia.

Dengan adanya berbagai peluang Proyek Infrastruktur di Indonesia dan telah dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN, inilah era para Insinyur muda Indonesia untuk membangun Infrastruktur di Negara sendiri, bila perlu melakukan ekspansi ke Negara lain dengan kualitas yang dimiliki. Jangan sampai proyek dan pembangunan yang sudah menjadi cetak biru pemerintah dilahap habis oleh Insinyur dari Negara lain. Salam Engineer Muda Indonesia..!!

Advertisements

“Idiocrazy” Dalam Fenomena Moral Bangsa

idiocracy-poster

Bagi anda yang pernah menjadi mahasiswa di tahun 2006, mungkin cukup familiar dengan film underrated bergenre komedi yang cukup absurd yang berjudul “Idiocracy”. Premis didalam film tersebut bercerita tentang kehidupan di masa depan yang ternyata jauh sekali dengan apa yang dibayangkan oleh banyak orang selama ini. Tidak terbayangkan bahwa kehidupan di masa depan yang selama ini penuh dengan fantasi alat berteknologi canggih, mobil terbang, robot otomatis yang bisa memasak, dan sebagainya, alih-alih malah manusia ternyata sedang memasuki fase kemunduran peradaban, orang tolol dimana-mana & malah jadi pemimpin dunia, Lha kok bisa?

Cerita bermula dari sebuah percobaan yang dilakukan militer Amerika Serikat pada sebuah fasilitas penelitian. Adalah Joe Bauers yang diperankan oleh actor Hollywood Luke Wilson, seorang Prajurit AS berpangkat kopral dengan IQ “sangat rata-rata” , dan Rita (Maya Rudolph) seorang wanita tuna susila yang takut dengan seorang germo, mereka berdua dijadikan objek kelinci percobaan oleh Militer AS dalam sebuah proyek hibernasi militer dan rencananya akan “dibangkitkan” setahun kemudian. Namun sial bagi mereka, proyek tersebut berhenti di tengah jalan dikarenakan ulah seorang komandan militer yang terlibat kasus prostitusi, hingga akhirnya proyek ditutup dan banyak pihak yang lupa kalau ternyata masih ada 2 orang yang sedang “Tidur” didalam kapsul hibernasi.

500 tahun kemudian berlalu, banyak peristiwa yang mereka lewatkan selama hibernasi, salah satunya adalah banyak orang cerdas yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri, melakukan penelitian yang rumit, dan memilih kesejahteraan ekonomi sebagai prioritas ketimbang “bikin anak”. Di lain pihak orang-orang ber-IQ rendah justru rajin memperbanyak keturunan dan sebagai akibatnya grafik populasi orang cerdas jatuh, dan 500 tahun kemudian dunia didominasi oleh orang-orang bodoh. Di tahun 2505 secara tidak sengaja Joe dan Rita berhasil keluar dari kapsul hibernasi, dan alangkah kagetnya mereka melihat situasi dunia yang chaos, penuh orang bodoh, kekerasan, dan yang paling parah di otak penduduknya waktu itu hanya ada sex dan sodomi. Selain itu permasalahan paling sederhana pun yaitu sampah, tidak mampu diatasi oleh penduduk dunia waktu itu. Dimasa depan yang absurd itu mereka berdua kemudian ditangkap oleh polisi karena tidak memiliki barcode semacam identitas pribadi, sehingga diharuskan untuk menjalani tes intelektualitas. Alangkah kagetnya otoritas pemerintahan waktu itu, karena hasil test IQ mereka yang rata-rata tadi dianggap paling jenius untuk ukuran intelegensi di masa depan. Sungguh konyol, mereka menjadi orang terpandai didunia !!. Kejadian kocak pun terus berlanjut setelah Joe menjalani tes kecerdasan, dimulai ketika ia diharuskan untuk memasangkan barcode identitas pribadi, dan karena suatu kesalahan di mesin barcode, namanya pun berubah menjadi “Not Sure” bukannya Joe Bauers.  Si “Not Sure” ini alias Joe Bauers suatu ketika berkenalan dengan Presiden AS saat itu, yakni Dwyne Elizondo Camacho, dan jangan dibayangkan bahwa Presiden di masa depan adalah orang yang penuh wibawa, pandai berorasi maupun berpikir strategis, dan lain sebagainya, karena di masa depan Presiden AS yang ada di film ini adalah orang yang sering bertingkah laku konyol dengan prestasi  sebagai juara dunia smackdown lima kali dan bintang film porno sekaligus !!, hahaha..

Karena IQ “Not Sure” alias Joe Bauers terbilang “tinggi” di masa depan, maka Presiden Camacho pun mengangkatnya sebagai menteri dalam negeri dan ia ditugaskan untuk menyelesaikan problem-problem yang sebenarnya tidak rumit (salah satunya adalah mengatasi krisis pangan dengan mengganti sumber air yang ternyata selama ini menggunakan larutan elektrolit semacam minuman energi untuk menyiram lahan pertanian..hahaha), dan masih banyak adegan konyol lain yang mungkin terlalu panjang untuk dijelaskan dalam tulisan ini, hingga di akhir cerita Joe Bauers pun menikah dengan Rita, dan karena jasa-jasanya ia menjadi Presiden AS dengan Rita sebagai eks pelacur pertama di dunia yang menjadi Ibu Negara, hahaha..

Terlepas dari apapun pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara ataupun sineas didalam film tersebut, yang jelas apa yang ditampilkan pada setiap adegan “Idiocracy” ini, entah mengapa kok sedikit mirip dengan situasi bangsa Indonesia yang sedang mengalami kemunduran moral dan kebodohan. Evolusi Negara “Democracy” yang idiot menjadi “Idiocracy”, gejala kebebalan yang merata ini seperti sudah memasuki setiap sektor, budaya berpikir instan tanpa merefer sumber yang valid, tidak pernah membaca buku namun merasa paling benar di social media juga sudah menjadi sebuah kebiasaan orang-orang kita. Dan jangan heran jika memang saat ini generasi penerus kita sedang menuju tahap “Ke-Idiotan”, bayangkan saja sejak mulai pagi hingga menjelang malam, TV kita sudah mulai “diracuni” tayangan idiot oleh salah satu stasiun TV nasional. Dan salah satu stasiun TV kadang seringkali menayangkan acara joget pagi dan music secara live, ini saya jadi berpikir anak-anak ini apa tidak sekolah dan malah disuruh joget pagi-pagi, Waduh..!

Kemudian juga fenomena seperti LGBT seperti sudah menjadi pembenaran oleh beberapa kalangan, apa memang mau jadi Negara demokrasi yang idiot alias “Idiocracy” beneran?

Salam Engineer

-YEP-

Pengembangan Human Factor Di dalam Mining Management (Operation dan Maintenance) sebagai strategi Menurunkan Human Error dan Meningkatkan Cost Efficiency dan Safety

Oleh  : Yoga Ernanto Prabowo

 

Seringkali kita temukan beberapa kejadian di dalam operasional pertambangan yang mengakibatkan Fatal Incident, ataupun nyaris insiden / near miss baik itu di area Front, Hauling atau bahkan di Workshop sekalipun. Jika kita melihat hal tersebut maka beberapa dari kita langsung berpikir kemungkinan adanya faktor kesalahan manusia atau istilah kerennya Human Error yang mempengaruhi dalam aktivitas di industry pertambangan tersebut,

Apa yang menyebabkan Human Error? Ternyata sebelum kita melangkah kepada istilah human error atau mengkambing hitamkan si “end user” yang terkena accident, sesungguhnya ada “aktor” dibalik itu semua, yaitu “Human Factor”, istilah yang sepertinya jarang bahkan tidak pernah dibahas.

Human Factor atau faktor manusia merupakan Ilmu yang mempelajari tentang pemahaman sifat-sifat manusia terhadap lingkungannya, atau secara luas didefinisikan sebagai studi tentang semua aspek dari cara manusia berhubungan dengan dunia di sekitar mereka, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja operasional atas dasar keselamatan / safety. Di dalam Human Factor juga ditemukan istilah ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari kerja manusia.

Dalam kasus di lingkungan Industri Pertambangan kita bisa mengambil contoh prinsip pengembangan analisa Human Factor, misal jika kita akan melakukan pekerjaan Overhaul Engine di Area Workshop, maka perlu dilakukan analisa / JSA terhadap Tools yang layak bagi pekerjaan tersebut, posisi kerja mekanik yang natural, desain alat kerja atau produk yang sesuai ukuran tubuh si Mekanik, pola organisasi kerja ataupun jumlah manpower yang efektif, bahkan sampai jenis kerja yang cocok bagi individu berdasarkan grade / golongannya dan masih banyak lagi.

Kemudian jika kita angkat ke area Operation, Salah satu nya adalah seperti yang dibahas diatas adalah beberapa kali unit mengalami kecelakaan. Kita tahu seperti yang diberitakan bahwa ada banyak korban yang bahkan meninggal dalam kecelakaan dan operator sering dijadikan “tersangka utama” karena human error. Ya mungkin itu memang human error, namun apakah human error itu selalu terjadi karena kesalahan si operator? Kemudian bagaimana kondisi kesehatan si operator? Bagaimana kondisi unitnya? Bagaimana maintenance unitnya? Bagaimana proses shift atau penjadwalan operator? dan masih banyak faktor-faktor manusia (human factors) lainnya yang semua itu jarang atau bahkan beberapa tidak pernah dijadikan bahan penyelidikan.

 

Melihat adanya berbagai macam kejadian tersebut di lapangan , maka di dalam konsep management di industry pertambangan konsep pengembangan analisa Human Factor mutlak dilakukan. Jika selama ini konsep Management hanya menggeluti masalah teknis seputar makro proses management produksi maupun maintenance, maka factor management dan kinerja manusia yang mengintegrasikan Human Factor didalamnya juga perlu dilakukan untuk menjamin aspek safety dan cost efficiency kedepannya.

Masalah kinerja manusia juga bisa menjadi salah satu ancaman yang signifikan terhadap sistem keamanan di bidang pertambangan. Perlu dicatat bahwa industri pertambangan mengintegrasikan berbagai macam lintas disiplin ilmu, seperti transportasi jalan, manufaktur/maintenance, dan operasi rekayasa tambang yang memiliki porsi problem yang seimbang.

Oleh karena itu, pemahaman atas kecelakaan kerja atau insiden hanya akan diperoleh jika unsur manusia dipandang sebagai bagian fundamental dari sistem kerja yang lebih luas, daripada hanya mempertimbangkan sisi produktifitas dan teknis.

Sehingga walau ada ekspetasi peningkatan permintaan untuk peralatan pertambangan yang lebih besar, lebih kuat, lebih cepat, lebih aman, dan lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, namun ukuran bukan satu-satunya parameter penting. Kehandalan peralatan yang tinggi, desain yang lebih kuat, dan kinerja yang efisien adalah harapan, atau setidaknya antisipasi, perusahaan tambang terhadap Human Error. dan tentu saja, hal tersebut akan “memaksa” produsen peralatan untuk merancang dan membangun persyaratan seperti itu, karena pengelola pertambangan tersebut ingin lokasinya aman dan efisien, dan operator juga akan benar-benar mampu mengoperasikannya secara optimal.

 

Dengan asumsi pentingnya Human Factor akan lebih diakui oleh industri pertambangan secara keseluruhan, maka metode Human Factor Analysis, pengetahuan, dan temuannya, perlu digunakan ke tingkat yang lebih besar dalam desain, pembelian, set-up, dan manajemen peralatan. Sebagai contoh, Human Factor analysis didalam pengadaan peralatan, maka salah satu cara untuk mencapai ini adalah dengan melakukan audit ataupun checklist spesifikasi fungsional yang dirancang untuk membantu dalam pembelian peralatan baru.

Sebagai tuntutan terhadap peningkatan industri pertambangan, teknologi harus beradaptasi dengan mengoptimalkan efisiensi dan meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan keselamatan.

Metode yang sama juga dapat diterapkan untuk mengembangkan proses Supply Management. Dengan mengembangkan prinsip Human Factor di dalam proses Procurement, maka akan kita dapatkan analisa spesifikasi fungsional yang sesuai melalui tender dan pengadaan peralatan yang terbaik untuk memastikan peralatan yang aman dan efisien.

Hasil dari pendekatan semacam itu akan menguntungkan perusahaan pertambangan, karena telah berhasil meningkatkan standard spesifikasi peralatan yang efisien dan aman. Lebih khusus lagi, jika hal itu dilakukan melalui produsen peralatan Originated Equipment Manufacturer (OEM) maka pabrikan juga akan berpotensi membantu untuk membuat desain terbaik dari peralatan tersebut. Proses tersebut kemudian konsisten dikomunikasikan dengan pihak OEM, yang pada akhirnya akan didapat keuntungan finansial.

Pada lingkup operation dan maintenance, ada sebuah metode atau konsep yang dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan Human Factors didalamnya yaitu Operation and Maintainability Analysis Technique (OMAT) – Horbery et al, 2009.

OMAT secara umum adalah proses penilaian risiko yang berorientasi pada tugas yang berfokus pada faktor manusia yang berhubungan dengan Mobile Mining Equipment.

Ada beberapa langkah atau proses yang dapat dilakukan untuk menentukan Analisa yang berkaitan dengan OMAT, diantaranya :

  1. Prioritaskan tugas-tugas yang dianggap penting (berdasarkan jenis keamanan dan kriteria ), Meskipun idealnya semua tugas harus dikerjakan, namun batasi hanya untuk fokus pada hal yang dianggap prioritas.
  2. Jelaskan dan analisa setiap langkah-langkah kerja yang konstituen terhadap pekerjaan yang dianggap prioritas tersebut, sehingga dapat ditemukan adanya penyimpangan yang terjadi dalam setiap langkah pekerjaan, bisa menggunakan media JSS dan JSA.
  3. Mengidentifikasi setiap resiko pada setiap langkah pekerjaan. Bisa menggunakan matriks resiko yang biasa digunakan dalam area pertambangan.
  4. Mengembangkan solusi. Untuk risiko yang telah teridentifikasi pada langkah 3, maka selanjutnya adalah mengembangkan berbagai macam solusi yang mungkin bisa diaplikasikan berdasarkan skala prioritas.
  5. Pihak OEM Menerima feedback terhadap solusi dari Costumer (Pemakai Alat).Biasanya pihak Pabrikan / OEM akan mengembangkannya lebih lanjut, (misalnya dalam bentuk spesifikasi teknis), namun untuk proses yang spesifik seperti pada indistri pertambangan tentu akan terus dievaluasi, mengingat tidak semua produk akan digunakan untuk kegiatan pertambangan
  6. Mengontrol list daftar resiko yang dikontrol oleh Perusahaan pertambangan maupun Pabrikan, Hal ini termasuk siapa yang bertanggung jawab untuk aspek-aspek desain. Informasi ini mungkin sangat berguna untuk lokasi pertambangan dan memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan kontrol atas setiap risiko yang berhubungan dengan peralatan yang tersedia

untitled

Masih banyak berbagai metode atau cara yang dapat dilakukan untuk menganalisa setiap resiko pekerjaan yang berhubungan dengan Faktor Manusia, dan semoga tulisan ini dapat dijadikan referensi untuk mengembangkan integrasi Human Factor Analysis ke setiap jenis pekerjaan

MEMILIH STRATEGI MAINTENANCE SAAT DIHARUSKAN MELAKUKAN COST REDUCTION

Oleh  : Yoga Ernanto Prabowo

Jika kita tidak bisa menjual semua yang kita produksi, maka mengurangi salah satu komponen biaya menjadi satu-satunya cara untuk meningkatkan margin atau laba, tetapi itu sebenarnya adalah perspektif dari akuntansi sederhana yang seharusnya tidak perlu terjadi. Pengendalian ataupun pengurangan biaya (Cost Reduction) sering dianggap kunci untuk mencapai profitabilitas tetapi dalam kasus pemeliharaan alat produksi / maintenance equipment itu bisa menjadi sebuah kesulitan. Pengendalian biaya menjadi peluang biaya yang sangat besar jika tidak mampu mengambil keuntungan dari peluang yang dimiliki.

g

Gambar diatas menunjukkan kurva dasar-dasar biaya. Seiring dengan meningkatnya produksi, maka pendapatan dan biaya operasional meningkat. Pendapatan akan menjadi nol saat nol produksi dan akan meningkat ke 100% saat output produksi 100% (jika Anda dapat mencapainya). Biaya tetap / Fixed cost (misal : penyusutan leasing, energi untuk keperluan kantor, menjawab telepon, dll) membuat titik awal untuk kurva biaya di atas nol. Dalam Gambar diatas ditunjukkan bahwa biaya juga akan meningkat saat output produksi meningkat, dan selang beberapa titik akhirnya pendapatan akan melebihi biaya dan menghasilkan profit. Tingkat produksi harus dicapai di atas titik 60% dari BEP untuk menghasilkan margin (laba sebelum pajak). Margin ditunjukan oleh gap atau celah antara grafik pendapatan vs biaya ke arah kanan dari titik BEP. Di grafik tersebut ditampilkan tingkat produksi diasumsikan pada 80% dari Total kapasitas. Pada tingkat kapasitas tersebut margin seperti yang ditunjukkan adalah 5% dari pendapatan

Sekarang begini, tujuan utama sebuah Bisnis adalah untuk memaksimalkan penghasilan. Organisasi bisnis yang dapat menghasilkan produksi maksimal, akan meningkatkan pendapatan dan keuntungan (dengan asumsi pasar akan menyerap produksi) sekaligus memiliki kemampuan untuk mengurangi biaya, dibandingkan organisasi yang menghasilkan sedikit keuntungan.

Cost Reduction atau pemotongan biaya akan mempengaruhi kurva biaya menjadi turun (vertikal) jika kita dapat mengurangi biaya tetap / fixed cost. Cost reduction juga akan mengurangi kemiringan kurva jika biaya variabel berkurang. Ini adalah salah satu contoh “worst case” skenario di mana biaya tetap tidak berubah (lihat referensi grafik dibawah)

h

Grafik diatas hanya mengurangi kemiringan kurva biaya dengan menurunkan biaya operasi (yang ditunjukan pada kurva “operating cost improved”). Segala jenis Pengurangan biaya (baik tetap atau variabel) akan menggeser titik BEP untuk bergerak ke kiri dan meningkatkan margin lebih cepat. Gap atau celah antara kurva pendapatan dan biaya juga akan lebih besar. Kurva Improvement terhadap cost ditunjukkan pada Gambar yang kedua dengan titik BEP yang baru di atas 50% dari kapasitas produksi.

Dalam skenario ini operasi produksi menghasilkan margin keuntungan pada tingkat produksi yang lebih rendah dan celah gap antara pendapatan dan biaya melebar. Bahkan jika tingkat produksi tetap tidak berubah pada 80%, margin akan meningkat dari 5% sampai 9%, peningkatan yang fantastis !

Katakanlah jika kita bisa memanfaatkan peningkatan produksi, baik dalam menjual lebih banyak produk ke pasar, atau untuk memenuhi tuntutan dari pasar yang ketat. Maka jenis maintenance dan pemeliharaan alat produksi macam apa kira-kira yang diperlukan? Level tertinggi dari ketersediaan alat (Physical Avaliability) atas pemeliharaan bisa mencapai 90% atau lebih (study kasus salah satu pemain industri kontraktor pertambangan), dan pencapaian PA rata-rata adalah 80%. Dengan asumsi PA tersebut kita dapat memanfaatkan kapasitas itu. Maka jika kita meningkatkan tingkat produksi dari 80% menjadi 90%, berdasarkan simulasi Grafik yang kedua diatas margin juga akan meningkat menjadi 12% !! Apa yang bisa kita lakukan untuk mencapai itu?

Kita membutuhkan Maintenance yang lebih dapat diandalkan, karena pengurangan biaya saja tidak akan memberikan lebih banyak kapasitas produksi.

Mari kita berasumsi bahwa kinerja dan performa pemeliharaan alat kita  telah lebih atau berkurang dari angka “rata-rata.” Dalam hal ketersediaan alat (PA) kita akan menjadi sekitar 80%. Jika staf produksi dan operator alat dapat terutilisasi secara penuh, maka output produksi maksimum kita adalah 80% dari total kapasitas (jika beroperasi normal tanpa insiden ataupun mis-operation). Seperti ditunjukkan pada Gambar. 1. Biaya pemeliharaan bervariasi dari 5% sampai 50% dari biaya operasi, tergantung pada jenis industri, dengan biaya rata-rata sekitar 20%.

Untuk ilustrasi mari kita asumsikan Biaya pemeliharaan berkisar pada nilai rata-rata saja, yaitu 20%. Jika kita meningkatkan kinerja pemeliharaan ke tingkat kinerja yang tinggi maka kita bisa mengurangi biaya yang sekitar 20%, turun menjadi 15% dari biaya operasional.

Seperti apa patokan kinerja untuk mencapai performa yang tinggi ?

Pemanfaatan Tenaga Kerja meningkat melalui praktek manajemen kerja yang lebih baik. Seiring dengan tingkat persaingan bisnis kita akan mendapatkan lebih banyak pekerjaan yang dilakukan dengan jumlah yang sama atau mungkin lebih sedikit orang dan mengelola backlog (pekerjaan tertunda) yang lebih baik. Pemanfaatan waktu jam bekerja efektifnya adalah mencapai lebih dari 52%. Agar hal tersebut bisa terjadi, kita harus menyelesaikan pekerjaan yang dijadwalkan selesai tepat pada waktunya. Lebih banyak pekerjaan yang harus dijadwalkan, juga harus direncanakan sepenuhnya, material / parts harus tersedia dan harus ada sedikit gangguan dari kerusakan tak terduga.

Seorang yang berkinerja tinggi melakukan perencanaan pekerjaan yang lebih baik dan melakukan koordinasi kebutuhan material dan parts. Mereka tidak menjadwalkan tanpa rencana atau tanpa mengetahui material maupun spare parts yang tersedia. Mereka menderita kerusakan lebih sedikit karena melakukan pekerjaan yang lebih proaktif tanpa “kelebihan program repair”. Melakukan terlalu banyak pekerjaan yang salah dapat menyebabkan kegagalan. Mereka lebih mengandalkan monitoring kondisi peralatan dari sebuah pekerjaan preventif. Mereka mengetahui secara relatif bahwa sebenarnya kegagalan sebuah komponen dan alat adalah murni karena usia atau penggunaan / kesalahan operasi. Mereka melakukan lebih sedikit overhaul, lebih sedikit kegagalan, lebih banyak MTBF dan secara keseluruhan lebih sering mencatatkan status “uptime” ketimbang “downtime”.

Memilih pendekatan proaktif maintenance secara benar, membutuhkan pola pikir tentang mode kegagalan alat, beserta konsekuensi yang diakibatkan jika komponen tersebut gagal dan bagaimana serta apa treatment yang terbaik. Pendekatan terbaik salah satunya adalah metode Reliability Centered Maintenance (Pemeliharaan berbasis Kehandalan)

Organisasi yang berkinerja tinggi berinvestasi dalam perencanaan, penjadwalan, koordinasi kebutuhan material dan RCM. Mereka memperlakukan ini sebagai investasi, bukan biaya, dan berpikir bahwa “kita WAJIB tumbuh dan berkembang”. Seperti organisasi kebanyakan, banyak yang telah melalui periode konsep “run to failure” kemudian “operation and fix after breaks”. Mereka berjuang dengan minimnya anggaran dan kurangnya kerjasama dari operator mereka. Mereka harus menemukan cara untuk “membenarkan” Cost Proactive Maintenance.

Mereka harus mengakui bahwa tidak dapat mencapai perbaikan ini dengan berfokus hanya pada satu daerah perbaikan. Perencanaan Maintenance, penjadwalan, koordinasi supply material, dan RCM semua bekerja saling ketergantungan untuk hasil terbaik seperti sebuah “makanan 4 sehat, 5 sempurna”. Masing-masing jenis “makanan” memberikan beberapa manfaat sendiri, tapi itu adalah kombinasi yang benar-benar memberikan hasil terbaik. Memperbaiki satu area proses saja, seperti perencanaan, tidak akan memberikan penghematan besar. Demikian pula, tidak menggunakan RCM maka tidak akan memberi pengaruh apa-apa untuk menuntut sebuah alat produksi yang handal.

Sebenarnya investasi sebuah CMMS juga tidak begitu memberikan pengembalian investasi yang tinggi dan sangat membutuhkan biaya serta mahal, apalagi jika SDM nya benar-benar tidak mengimplementasikan sebuah CMMS dengan baik. Perlu mengambil pendekatan yang seimbang dan bertahap.

Pengendalian biaya masih menjadi suatu hal yang penting, karena akan mengidentifikasi di mana kita “memiliki rasa sakit keuangan” yang disebabkan oleh masalah kehandalan peralatan. Manfaat lainnya juga akan muncul seperti jumlah insiden yang berkurang, pencemaran lingkungan yang lebih sedikit (akibat denda dan biaya pembersihan), dan hasil bisnis yang lebih dapat diprediksi, investasi modal berkurang (aset yang lebih tua menjadi lebih awet), premi asuransi yang lebih rendah, peningkatan kualitas kinerja, peningkatan moral karyawan dan lebih sedikit tidur malam. Kita mungkin tidak dapat memperkirakan ini di depan, tetapi dapat kita lacak saat membuat perubahan.

Melakukan pemeliharaan yang tepat, dengan cara yang benar dan pada waktu yang tepat memberikan nilai lebih dalam banyak cara. Berfokus hanya pada biaya pemeliharaan untuk meningkatkan profitabilitas pada akhirnya akan membawa kita ke dalam kesulitan atau mencegah keluar dari kesulitan itu. Yang sering disalahpahami adalah Cost Reduction sering diinformasikan dan disalah-artikan dalam bentuk pengurangan jam training karyawan, mengurangi jumlah pegawai, mengurangi porsi makanan, mengurangi aktivitas pemeliharaan alat namun kurang proaktif, dll . Manager cerdas tahu bahwa dengan meningkatkan beberapa area pengeluaran yang dimanfaatkan dengan bijak akan benar-benar menghasilkan pengurangan pengeluaran non-discretionary untuk perbaikan.

SALAM MAINTENANCE

-YEP-