MEA 2016, Era-nya Insinyur Muda Indonesia Untuk Tunjukan Kompetensi

Oleh : Yoga Ernanto Prabowo

 

Tahun 2016 sudah kita mulai, geliat isu tentang MEA yang sering kita dengar di awal tahun 2015 telah dikumandangkan, ibarat perang genderang nya sudah mulai ditabuh, dan seluruh pasukan tempur masing-masing faksi siap atau tidak siap harus bertempur, menyerang atau diserang. Bagaimana dengan gambaran peta “Pasukan dan arsenal” Indonesia?

MEA atau AEC adalah Masyarakat Ekonomi Asean / Asean Economic Community, istilah yang mungkin hampir merujuk kepada Masyarakat Ekonomi Eropa yang telah lahir kurang lebih 5 dekade yang lalu. Secara umum keduanya hampir sama, yang membedakannya hanyalah mereka di Eropa sedangkan kita di Asia Tenggara (ASEAN). Sehingga secara umum bisa diartikan sebagai bentuk integrasi seluruh kekuatan ekonomi di negara ASEAN untuk menerapkan sistem perdagangan bebas, baik itu aliran modal, barang, jasa, hingga tenaga kerja terlatih, serta aliran investasi yang lebih bebas dibandingkan sebelumnya.

Selain telah dibentuknya MEA, di tahun-tahun awal pemerintahan Presiden Ir. Joko Widodo, kita telah menyaksikan begitu banyak dicanangkannya pembangunan Infrastruktur yang cukup merata di sebagian wilayah Indonesia, walaupun belum seluruhnya. Pemerintah seakan-akan telah mencetak sebuah skema “Blueprint” baru bagi keberlangsungan proyek Infrastruktur yang selama ini diam di tempat.

Sebut saja contoh diantaranya adalah Megaproyek Listrik 35.000 MW yang sebelumnya “hanya” 20.000 MW, pembangunan Jalur Kereta Api Trans Sulawesi, pembangunan jalur kereta api Trans Kalimantan, ekspansi proyek jalan tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatra, dan masih banyak yang lain.

Meskipun milestone pengembangan proyek infrastruktur di Indonesia sudah mulai terlihat, Indonesia masih terlihat kekurangan Industri yang berkualitas ataupun sumber daya manusia yang memiliki kualitas tinggi sebagai insinyur profesional dengan kualifikasi yang diakui secara internasional, hal ini tentu saja patut dicermati mengingat salah satu tujuan diberlakukannya MEA adalah kebebasan arus Jasa dan Tenaga Ahli serta Terampil, artinya SDM dari negara lain bebas keluar masuk Indonesia untuk mencari sesuap nasi.

Tidak hanya itu, selain skill yang mumpuni tentu saja biaya cost per manpower, ataupun cost per produksi patut menjadi pertimbangan. Di situasi seperti sekarang ini, Cost yang efisien disertai kualitas Individu yang bagus akan menjadi pertimbangan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi customer yang ingin bermitra atau bekerjasama dengan kita, ini yang harus menjadi refleksi bagi kita semua, apakah sudah efisien dan efektifkah organisasi dan SDM yang kita miliki? Jangan sampai hanya karena biaya yang tinggi kita gagal bersaing dengan perusahaan ataupun individu dari Negara Asean yang lain, dan itu semua tidak lepas dari peran dan kualitas seorang Insinyur dalam melakukan pengelolaan.

Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana meningkatkan kualitas Insinyur Indonesia? Menurut Infografis yang dikeluarkan oleh Biro Persatuan Insinyur Indonesia tahun 2015, Indonesia memiliki penduduk setidaknya sekitar 252 Juta, dan dari jumlah itu hanya sekitar 800.000 SDM Indonesia menyandang gelar Sarjana Teknik, dan 10.000 SDM Indonesia menyandang gelar Insinyur Profesional, angka yang sangat sedikit sekali untuk ukuran Negara besar seperti Indonesia yang ingin menjadi Negara industri maju baru di tahun 2020. Apalagi menurut Sekjen Persatuan Insinyur Indonesia, Prof.Dr.Ir. Danang Parikesit, IPU, Indonesia ingin menargetkan kontribusi industri non migas yang mampu mencapai 30% terhadap PDB.

Selama ini kita hanya mengenal istilah Insinyur untuk mereka yang menempuh pendidikan tinggi di bidang keteknikan sebelum era tahun 90an. Pada era tersebut seluruh lulusan teknik, kehutanan hingga teknologi pertanian menyandang gelar “Insinyur”. Memasuki era tahun 90an, diberlakukan regulasi baru di bidang pendidikan, dimana seluruh lulusan jenjang S1 Fakultas Teknik dan Pertanian tidak lagi menyandang gelar Insinyur, melainkan menyandang Gelar Sarjana Teknik atau Sarjana Pertanian dan sejenisnya. Hal tersebut dikarenakan gelar Insinyur tidak lagi dipandang sebagai gelar akademik melainkan gelar profesi, yang secara kualitas masih diragukan kompetensinya.

Dengan dikeluarkannya aturan gelar Insinyur sesuai dengan UU No.11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran, hal ini merupakan validasi akan kompetensi seorang lulusan penyandang gelar Sarjana Teknik untuk dapat menjadi Insinyur Profesional melalui Sertifikasi Insinyur Profesional dan Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan / PKB. Hal yang diatur dalam UU No.11 tahun 2014 ini mencakup sistem pengembangan kompetensi insinyur professional, perizinan kerja bagi para pelaku profesi keinsinyuran termasuk Insinyur asing, sistem penjaminan kualifikasi dasar untuk memasuki profesi keinsinyuran, dan sistem penjaminan mutu akademis untuk pendidikan tinggi teknik.

Dengan adanya legalitas payung hukum atas profesi keinsinyuran yang sudah diterbitkan saat ini, seorang Sarjana Teknik dapat menjadi seorang Insinyur sesuai dengan ketentuan Undang Undang Keinsinyuran yang sudah diberlakukan, dan harapannya melalui Program Sertifikasi Insinyur Profesional dan Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan yang sudah diberlakukan, Insinyur Indonesia dapat bersaing dan setara dengan Insinyur Asing dari Negara-negara anggota Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Dengan melakukan sertifikasi insinyur professional akan banyak sekali manfaat yang dirasakan baik bagi Negara, perorangan (pemegang sertifikasi), maupun organisasi perusahaan. Diantaranya :

  1. Adanya bentuk jalur pertanggung-jawaban secara perdata atas hasil karya, produk maupun jasa keinsinyuran
  2. Terciptanya kesetaraan Internasional bagi jenjang keprofesionalan tenaga ahli teknik / Insinyur nasional
  3. Adanya pengakuan resmi dan berlaku secara nasional maupun internasional terhadap kompetensi, keahlian dan kemampuan keinsinyuran dari seseorang yang menyandang gelar sertifikasi insinyur professional
  4. Tersedianya kesempatan peningkatan kompetensi, keahlian dan kemampuan melalui pembinaan keprofesian yang berkelanjutan
  5. Tersedianya kemudahan untuk ikut serta dalam proyek-proyek pembangunan keinsinyuran bila persyaratan keprofesionalan kelak telah diberlakukan pemerintah
  6. Terciptanya iklim keprofesionalan dalam organisasi / perusahaan, yang tentunya akan mendorong seorang insinyur untuk semakin meningkatkan keahliannya.

Dengan demikian semakin jelaslah bahwa peningkatan kompetensi seorang Insinyur atau Sarjana Teknik melalui sertifikasi mutlak diperlukan pada era saat ini jika ingin bersaing dengan Insinyur dari ASEAN,

Melalui wadah Organisasi Profesi Persatuan Insinyur Indonesia, seorang penyandang gelar Sarjana Teknik akan diakui kompetensinya untuk menjadi Insinyur Profesional yang digolongkan menurut kompetensi, jam terbang dan pengalaman yang dimiliki, yaitu Insinyur Profesional Pratama (Professional Engineer), Insinyur Profesional Madya (Senior Professional Engineer), dan Insinyur Profesional Utama (Executive Professional Engineer).

Kemudian secara teknis, kompetensi seorang penyandang Insinyur Profesional harus selalu dikembangkan sebagai salah satu syarat untuk memperpanjang sertifikasi yang berlaku setiap 5 tahun, dan seyogyanya seorang Insinyur nantinya juga harus membiasakan budaya menulis pengalaman kerja (resume) melalui logbook atau rekam kinerja dan harus selalu dicatat dengan teratur, hal yang sampai saat ini dirasa masih belum membudaya di Indonesia.

Dengan adanya berbagai peluang Proyek Infrastruktur di Indonesia dan telah dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN, inilah era para Insinyur muda Indonesia untuk membangun Infrastruktur di Negara sendiri, bila perlu melakukan ekspansi ke Negara lain dengan kualitas yang dimiliki. Jangan sampai proyek dan pembangunan yang sudah menjadi cetak biru pemerintah dilahap habis oleh Insinyur dari Negara lain. Salam Engineer Muda Indonesia..!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s