“Idiocrazy” Dalam Fenomena Moral Bangsa

idiocracy-poster

Bagi anda yang pernah menjadi mahasiswa di tahun 2006, mungkin cukup familiar dengan film underrated bergenre komedi yang cukup absurd yang berjudul “Idiocracy”. Premis didalam film tersebut bercerita tentang kehidupan di masa depan yang ternyata jauh sekali dengan apa yang dibayangkan oleh banyak orang selama ini. Tidak terbayangkan bahwa kehidupan di masa depan yang selama ini penuh dengan fantasi alat berteknologi canggih, mobil terbang, robot otomatis yang bisa memasak, dan sebagainya, alih-alih malah manusia ternyata sedang memasuki fase kemunduran peradaban, orang tolol dimana-mana & malah jadi pemimpin dunia, Lha kok bisa?

Cerita bermula dari sebuah percobaan yang dilakukan militer Amerika Serikat pada sebuah fasilitas penelitian. Adalah Joe Bauers yang diperankan oleh actor Hollywood Luke Wilson, seorang Prajurit AS berpangkat kopral dengan IQ “sangat rata-rata” , dan Rita (Maya Rudolph) seorang wanita tuna susila yang takut dengan seorang germo, mereka berdua dijadikan objek kelinci percobaan oleh Militer AS dalam sebuah proyek hibernasi militer dan rencananya akan “dibangkitkan” setahun kemudian. Namun sial bagi mereka, proyek tersebut berhenti di tengah jalan dikarenakan ulah seorang komandan militer yang terlibat kasus prostitusi, hingga akhirnya proyek ditutup dan banyak pihak yang lupa kalau ternyata masih ada 2 orang yang sedang “Tidur” didalam kapsul hibernasi.

500 tahun kemudian berlalu, banyak peristiwa yang mereka lewatkan selama hibernasi, salah satunya adalah banyak orang cerdas yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri, melakukan penelitian yang rumit, dan memilih kesejahteraan ekonomi sebagai prioritas ketimbang “bikin anak”. Di lain pihak orang-orang ber-IQ rendah justru rajin memperbanyak keturunan dan sebagai akibatnya grafik populasi orang cerdas jatuh, dan 500 tahun kemudian dunia didominasi oleh orang-orang bodoh. Di tahun 2505 secara tidak sengaja Joe dan Rita berhasil keluar dari kapsul hibernasi, dan alangkah kagetnya mereka melihat situasi dunia yang chaos, penuh orang bodoh, kekerasan, dan yang paling parah di otak penduduknya waktu itu hanya ada sex dan sodomi. Selain itu permasalahan paling sederhana pun yaitu sampah, tidak mampu diatasi oleh penduduk dunia waktu itu. Dimasa depan yang absurd itu mereka berdua kemudian ditangkap oleh polisi karena tidak memiliki barcode semacam identitas pribadi, sehingga diharuskan untuk menjalani tes intelektualitas. Alangkah kagetnya otoritas pemerintahan waktu itu, karena hasil test IQ mereka yang rata-rata tadi dianggap paling jenius untuk ukuran intelegensi di masa depan. Sungguh konyol, mereka menjadi orang terpandai didunia !!. Kejadian kocak pun terus berlanjut setelah Joe menjalani tes kecerdasan, dimulai ketika ia diharuskan untuk memasangkan barcode identitas pribadi, dan karena suatu kesalahan di mesin barcode, namanya pun berubah menjadi “Not Sure” bukannya Joe Bauers.  Si “Not Sure” ini alias Joe Bauers suatu ketika berkenalan dengan Presiden AS saat itu, yakni Dwyne Elizondo Camacho, dan jangan dibayangkan bahwa Presiden di masa depan adalah orang yang penuh wibawa, pandai berorasi maupun berpikir strategis, dan lain sebagainya, karena di masa depan Presiden AS yang ada di film ini adalah orang yang sering bertingkah laku konyol dengan prestasi  sebagai juara dunia smackdown lima kali dan bintang film porno sekaligus !!, hahaha..

Karena IQ “Not Sure” alias Joe Bauers terbilang “tinggi” di masa depan, maka Presiden Camacho pun mengangkatnya sebagai menteri dalam negeri dan ia ditugaskan untuk menyelesaikan problem-problem yang sebenarnya tidak rumit (salah satunya adalah mengatasi krisis pangan dengan mengganti sumber air yang ternyata selama ini menggunakan larutan elektrolit semacam minuman energi untuk menyiram lahan pertanian..hahaha), dan masih banyak adegan konyol lain yang mungkin terlalu panjang untuk dijelaskan dalam tulisan ini, hingga di akhir cerita Joe Bauers pun menikah dengan Rita, dan karena jasa-jasanya ia menjadi Presiden AS dengan Rita sebagai eks pelacur pertama di dunia yang menjadi Ibu Negara, hahaha..

Terlepas dari apapun pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara ataupun sineas didalam film tersebut, yang jelas apa yang ditampilkan pada setiap adegan “Idiocracy” ini, entah mengapa kok sedikit mirip dengan situasi bangsa Indonesia yang sedang mengalami kemunduran moral dan kebodohan. Evolusi Negara “Democracy” yang idiot menjadi “Idiocracy”, gejala kebebalan yang merata ini seperti sudah memasuki setiap sektor, budaya berpikir instan tanpa merefer sumber yang valid, tidak pernah membaca buku namun merasa paling benar di social media juga sudah menjadi sebuah kebiasaan orang-orang kita. Dan jangan heran jika memang saat ini generasi penerus kita sedang menuju tahap “Ke-Idiotan”, bayangkan saja sejak mulai pagi hingga menjelang malam, TV kita sudah mulai “diracuni” tayangan idiot oleh salah satu stasiun TV nasional. Dan salah satu stasiun TV kadang seringkali menayangkan acara joget pagi dan music secara live, ini saya jadi berpikir anak-anak ini apa tidak sekolah dan malah disuruh joget pagi-pagi, Waduh..!

Kemudian juga fenomena seperti LGBT seperti sudah menjadi pembenaran oleh beberapa kalangan, apa memang mau jadi Negara demokrasi yang idiot alias “Idiocracy” beneran?

Salam Engineer

-YEP-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s